
Nobar Film “Pesta Babi” Di Ternate Di Bubarkan Aparat Tentara!
Nobar Film Dokumenter Berjudul Pesta Babi Di Kota Ternate, Maluku Utara, Menjadi Sorotan Publik Setelah Di Bubarkan Aparat TNI. Peristiwa yang terjadi di kawasan Benteng Oranje itu memicu perdebatan mengenai kebebasan berekspresi. Ruang demokrasi, hingga alasan keamanan yang di gunakan aparat untuk menghentikan acara tersebut.
Acara nobar tersebut di ketahui di gelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ). Agenda itu awalnya di rancang sebagai pemutaran film dokumenter sekaligus diskusi mengenai isu lingkungan. Dan persoalan ekologis yang terjadi di Halmahera Nobar Film.
Namun, sebelum pemutaran berlangsung, aparat TNI mulai mendatangi lokasi kegiatan. Sejumlah anggota Babinsa dan intelijen di sebut telah memantau persiapan panitia sejak malam hari. Situasi kemudian memanas ketika aparat meminta agar pemutaran film. Di hentikan karena di anggap dapat memicu polemik di tengah masyarakat Nobar Film.
Menjaga Keamanan Dan Kondusivitas Wilayah
Dandim 1501/Ternate Letkol Inf Jani Setiadi menjelaskan bahwa keputusan pembubaran dilakukan setelah pihaknya memonitor reaksi masyarakat di media sosial. Menurutnya, terdapat banyak penolakan terhadap pemutaran film tersebut karena judul. Dan isi acaranya dianggap sensitif serta berpotensi provokatif.
Dalam keterangannya, Jani mengatakan aparat memiliki tanggung jawab Menjaga Keamanan Dan Kondusivitas Wilayah. Ia menyebut potensi konflik harus di antisipasi sejak awal agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di tengah masyarakat Ternate.
Meski demikian, panitia acara tetap berusaha melanjutkan agenda sesuai rencana. Film dokumenter Pesta Babi akhirnya sempat di putar sekitar pukul 21.30 WIT dan di hadiri jurnalis, aktivis lingkungan, anggota AJI, hingga pegiat isu sosial. Tidak lama berselang, aparat kembali datang ke lokasi dan meminta pemutaran di hentikan sepenuhnya.
Namun Aparat Tetap Meminta Kegiatan Nobar Film Di Hentikan
Namun Aparat Tetap Meminta Kegiatan Nobar Film Di Hentikan. Selain alasan potensi konflik, TNI juga menyebut adanya penolakan dari sebagian warga di wilayah Gamalama terhadap pemutaran film tersebut. Aparat menilai kondisi itu dapat menimbulkan ketegangan sosial apabila acara tetap di teruskan.
Pembubaran nobar ini kemudian menuai kecaman dari AJI Ternate. Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar, menilai tindakan aparat merupakan bentuk intimidasi terhadap kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi sipil. Menurutnya, pemutaran film dokumenter dan diskusi publik merupakan hak warga negara yang di jamin konstitusi.
Yunita menyatakan aparat tidak seharusnya menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh di tonton masyarakat. Ia juga menyoroti tindakan aparat yang mendokumentasikan panitia dan peserta sejak awal kegiatan, karena di nilai menciptakan rasa takut serta tekanan psikologis terhadap warga yang hadir.
Kasus Ini Kemudian Menjadi Perhatian Luas Di Media Sosial
Kasus Ini Kemudian Menjadi Perhatian Luas Di Media Sosial. Banyak pihak mempertanyakan batas kewenangan aparat dalam membubarkan kegiatan sipil yang bersifat terbuka untuk umum. Sebagian netizen menilai tindakan aparat berlebihan, sementara sebagian lain mendukung langkah TNI dengan alasan menjaga stabilitas keamanan dan menghindari gesekan sosial di masyarakat.
Film dokumenter Pesta Babi sendiri di sebut mengangkat isu lingkungan dan konflik sosial yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Judul film tersebut di nilai sensitif oleh sebagian masyarakat sehingga memunculkan penolakan sebelum acara berlangsung.
Hingga kini, perdebatan terkait pembubaran nobar Pesta Babi masih terus berlangsung. Berbagai pihak berharap kejadian serupa dapat di selesaikan melalui dialog dan pendekatan yang lebih terbuka agar keamanan tetap terjaga tanpa mengurangi ruang kebebasan sipil masyarakat Nobar Film.